Haaaai~ jika kalian baru bermain ke Blogku terimakasih ya sudah mampir, cerita hari ini mungkin sama seperti teman-teman lain yang juga merasakan penantian yang sama setelah menikah.
sedikit pengalamanku mungkin bisa menjadi teman dan juga cerita pengalaman anonim yang mungkin kisah hidupnya sama atau mirip ataupun tidak sama dengan kalian.
semoga ini bisa menjadi penyemangat juga untuk para Pejuang garis 2 :)
ini hanyalah cerita mengenai kehidupan pasangan muda biasa saja yang sama seperti warga lainnya yang memiliki kehidupan biasa saja juga,
hi, aku menikah di bulan Desember tahun 2020.
sejujurnya kami memang tidak terlalu terburu-buru untuk mengambil keputusan memiliki anak, kebetulan kamipun masih menimbang apakah kami pantas menjadi orang tua?
dengan kami yang masih menjadi pasangan baru dan juga terlihat masih sangat muda untuk memikirkan memiliki anak setelah pernikahan.
Mengapa kami belum memikirkannya di tahun pertama ?
kami merasa belum dewasa, ini yang menurut kami menjadi pertimbangan, meskipun banyak orang yang bilang "rejeki sudah ada yang atur, kalo sekarang ga ada rejekinya nanti juga ada" namun kami tau kami tetap ingin mengusahakan yang terbaik versi kami.
kala itu juga sedang marak covid 19 dengan saya yang baru saja resign karena akan ikut suami ke Bandung namun nyatanya baru saja kami akan pindah, suami sudah terkena musibah layoff jadi kami putar otak untuk mulai mencari pekerjaan kembali :)
alhamdulillah saya memulai karir saya kembali di jakarta dan karena suami yang diterima bekerja sebaga junior digital marketing dan dapat FULL WFH sehingga bisa ikut dengan saya nge kost di jakarta.
kosan kami tidaklah besar, namun nyaman. standar kos-kosan di jakarta, namun alhamdulillah kami dapat tempat yang sangat nyaman dan sangat dekat dengan kantor saya bekerja, terlebih saya boleh membawa suami tanpa perlu bayar double kamar.
sebagai tim generasi sandwich kami mulai sedikit-sedikit menabung terlebih dahulu dan memenuhi beberapa kebutuhan keluarga kami masing-masing.
selain memenuhi kebutuhan dari pada memikirkan kapan punya anak, kok sudah 6 bulan menikah di tahun pertama belum ada tanda-tanda ?
kami lebih memilih untuk memikirkan memenuhi kebutuhan keluarga kami masing-masing dan memperbaiki karir kami dan mulai kembali menabung untuk memnuhi kehidupan.
untuk sebagian orang dampak Covid 19 mungkin tidak terlalu terasa, namun untuk kami pemula dalam pernikahan dan terkena dampak covid, ini sungguh menjadi pelajaran untuk kami.
di tahun pertama saya merasakan banyak sekali pertanyaan, setiap bertemu tetangga jika sudah ada dirumah "sudah isi?"
"kosong berapa lama?" "oalah, masih baru"
sampai celetukan orang tua yang berbicara, "jangan suka nunda-nunda rejeki" dll
memang menyebalkan mendengar celotehan sekitar, namun bekerjasama dengan pasangan adalah hal terbaik versi saya, setiap ada celotehan orang lain yang menyinggung hati saya
saya langsung cerita to the point kepada pasangan, sehingga dia bisa membuat saya "calming down" dalam menghadapi situasi.
di tahun pertama, selain pertanyaan risih dari orang-orang yang kami dapatkan, tantangan selanjutnya adalah adaptasi masing-masing.
saya dan pasangan sudah saling mengenal selama 5 tahun dan kami memutuskan menikah dengan keputusan kami masing-masing, bukan karena dijodhkan ataupun keterpaksaan masing-masing.
meskipun 5 tahun ini sangatlah lama dan terasa saya sangat mengenal pasangan saya, namun nyatanya hal itu berbeda setelah pernikahan, karena saya benar-benar mengetahui asli dalam keluarganya, permasalahan keluarganya dan juga sifat yang memang benar-benar menjadi the real versi-nya yang baru saja saya tahu dikehidupan setelah menikah.
adaptasi tersebut sangat challenging untuk saya yang hanya seorang anak perempuan satu - satunya yang terbiasa tidak memiliki sodara dan juga terpenuhi kebetuhannya.
saya merasa aneh dengan culture keluarga yang berbeda jauh dengan keluarga saya.
pernah juga ada rasa ingin menyerah, ada juga rasa ingin keluar rumah, pernah juga saya pulang kerumah orang tua saya dan hanya ingin dikamar saya seharian untuk tertidur tanpa bercerita dengan siapapun.
tapi rasanya hal ini wajar bukan ?
menurut beberapa orang pasti sangat wajar untuk pasangan yang baru saja menikah.
alhamdulillah lika-liku di tahun pertama sudah kami lewati dan membuat kami lebih bersyukur dari kata kebersamaan yang kami miliki, setiap momennya yang rasanya terasa berat dari bagian adaptasi kehidupan, bisa kami lalui bersama.
1st anniversary kami, kami rayakan dengan mengisi kuisioner di kosan, ingat sekali beberapa pertanyaan didalam kuisioner itu ada mengenai kami berdua dan ada juga pertanyaan mengenai apakah kami siap memiliki anak ?
keputusan memiliki anak adalah hal terbesar yang harus kami pikirkan matang-matang, sebagai generasi sandwhich dan lingkungan yang masih berbicara "nanti juga akan ada rejekinya" kami tidak ingin main-main dalam memutuskan hal ini, akan ada nyawa kecil yang akan lahir kedunia dan ini pun bukan permintaanya, namun keinginan kedua orang tuanya dan kami ingin berusaha untuk bisa memberikan hak kasih sayang, hak pendidikan, dan hak nya untuk memilih menjadi apa yang dia mau.
di tahun kedua ini kami putuskan kami siap dan lebih mantap, dikarenakan di tahun pertama kami belum mendapatkan jawaban, kami memutuskan untuk program alami di tahun kedua ini.
6 bulan pertama setiap menjelang haid saya selalu menangis tersedu-sedu, setiap telat 1 minggu saya selalu tespack dan menangis kembali tersedu-sedu jika tidak ada garis 2.
setiap pulang kerumah selalu ada beberapa tekanan dari keluarga, selain karena ayah saya yang memiliki sakit stroke sehingga sedikit mengganggu dalam beberapa kegiatan, termasuk dalam hal momongan, omongan yang menyakitkan pernah terlontar dari mulutnya, dari saya yang harus memiliki hati sekuat baja karena memang keadaan ayah saya yang tidak stabil namun saya tau itu adalah jeritan hati setiap orang tua yang harus saya maklumi, membuat saya juga frustasi.
selama tahun kedua pernikahan, saya dan suami mulai hidup sehat, setiap pagi kami olahraga, minum air selalu 3Liter sehari dan mulai program makan dan minuman sehat.
di bulan agustus 2022 saya telat haid selama dua minggu dan testpack dua namun samar, hari itu juga saya segera ke dokter Obgyn untuk USG, dilakukanlah USG Transvaginal karena tidak dapat mendeteksi kantung jika USG biasa, akhirnya saya mantapkan ingin mengecek saja ke dokter, namun sayang tidak ada tanda-tanda kantung atau apapun, kami diberikan beberapa obat dan diinfokan untuk kembali lagi seminggu kemudian.
menjelang satu minggu kemudian perut saya keram hebat, akhirnya saya tau saya haid kembali, keterlambatan 2minggu mungkin dikarenakan saya stress dalam hal pekerjaan dan beberapa hal lain. untuk saat itu kondisi saya sudah bisa stabil dan menerima keadaan.
emosi saya juga tidak terlalu terkuras seperti 6 bulan pertama di tahun kedua pernikahan kami.
saya sudah mulai menerima bahwa hal yang kita inginkan belum tentu yang terbaik untuk kita, saya sudah bisa meredam segala emosi jika ada orang lain selalu senonoh menanyakan hal yang menyebalkan, yang saya pahami, saya tidak bisa mengontrol lingkungan luar saya tapi saya bisa mengontrol hati dan pikiran saya.
hal yang saya paling ingat saat itu saya pasrah dan berserah terhadap takdir yang sudah di gariskan untuk keluarga kecil kami.
saya menangis tersedu-sedu mungkin saya terlalu banyak berharap dengan angan tanpa mensyukuri nikmat yang saat ini saya punya, mungkin saya sangat terpengaruh dengan omongan orang lain dan keluarga sampai saya merasakan tidak bersyukur terhadap keadaan. mungkin saya terlalu menuntut standarisasi lingkungan saya sampai saya tidak merasa bahagia secara utuh.
satu bulan setelah saya merasakan ketenangan hati yang begitu besar, saya baru ingat saya haid telat 3 minggu, akhirnya saya testpack kembali dan ternyata garis dua dan lebih jelas, posisi saat itu saya dan suami sedang dinas luar sama-sama dibandung namun beda lokasi, akhirnya kami mantap pulang lebih cepat dan langsung ke dokter kandungan di hari senin.
setelah di USG lagi-lagi tidak terlihat sehingga harus USG transvaginal, saat USG ternyata sudah ada kantung janin, saya hanya terdiam.
suamipun terdiam, kami blank..
dokter menanyakan usia saya dan sudah berapa lama kami menikah, posisi kantung sudah terlalu kebawah sehingga berpotensi untuk keguguran, akhirnya saya dianjurkan untuk bedrest total tidak boleh bekerja dan minum obat penguat. lalu 2 minggu kemudian akan mengecek kembali apakah kantung berkembang atau tidak.
setelah dua minggu kemudian kami kembali ke dokter yang sama, ternyata janin sudah ada didalam kantung dan detak jantung pun sudah dapat di rasakan oleh alat USG, USG yang saya gunakan juga sudah bukan transvaginal namun USG 2D biasa.
dokter tersenyum, kami berdua membeku, saya pun bingung ingin berkata apa, karena yang saya rasakan adalah, saya harus mulai memberdayakan diri dengan baik saat ini.
kami pulang dengan perasaan yang bercampur, kami bersyukur karena mungkin saat ini sudah waktu yang tepat dan siap untuk memiliki dan dipercaya menjadi orang tua.
selama 3 bulan saya tetap mengonsumsi obat penguat dan bed rest total.
rasa masih tidak percaya masih terlintas di hati saya, trimester pertama begitu banyak perjuangannya, yang saya rasakan ternyata berbeda-beda ya kondisi kehamilan setiap ibu saya paham ada yang begitu kritis ada yang tidak terasa, namun kedua nya sama - sama berjuang untuk mempertahankan dan menjaga janin dalam kandungan. trimester pertama bisa saya lewati dengan alhamdulillah meskipun pernah masuk IGD karena tidak kuat muntah 3 hari berturut turut luar biasa.
di Bulan ke - 5 kehamilan trimester ke 2, setelah acara 4 bulanan, kami di uji kembali, selama satu bulan ayah kami sakit dan dibulan ke 5 kehamilan kami kehilangan ayah mertua pergi selamanya, sedikit tanpa terasa ternyata berpengaruh juga kepada kandungan saya saat itu, saya hampir terkena preklamsia, tekanan darah saya tinggi, saya sulit menggenggam dan menggerakan tangan kanan dan kiri, rasanya berat sekali.
selama pemakaman dan tahlil padahal saya merasa kondisi saya baik dan sehat namun mungkin itu hanyalah sebuah perasaan yang tidak terasa ya.
saat ke dokter, dokter menyarankan untuk bed rest total kembali selama 2 minggu kedepan.
dengan pertimbangan kondisi kesehatan saya dan saya sudah tidak ada rasa work life balance dalam hal bekerja, after pemulihan dari bed rest total, sayapun resign di bulan ke 9 kehamilan, karena sudah tidak bisa bertahan kembali dengan kondisi kehamilan dan kewajiban saya sebagai pekerja.
keputusan besar ini saya ambil dikarenakan setelah keluhan preklamsi ini tidak ada, posisi bayi dalam kandungan yang masing belum optimal di week 36 dan lokasi kerja yang cukup jauh tanpa bisa ada acc WFH sulit untuk saya bertahan dan mengoptimalkan diri saya, kadang saya menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa optimal menjaga kesehatan, saya memiliki birthplan dan memiliki cita-cita untuk bisa melahirkan secara pervaginam sehingga saya ingin berusaha dan memberdayakan diri penuh untuk anak saya dengan waktu yang saya miliki yang hanya sekitar 1 bulan lagi. mungkin keputusan ini sangat berat dan disayangkan oleh beberapa teman, namun keputusan ini didasarkan dengan beberapa faktor internal eksternal yang saya lalui. :)
alhamdulillah, saat ini usia kandungan saya di week 39 dan sedang menunggu gelombang cinta datang,
dari semua cerita kehidupan kami menanti buah hati, semoga cerita sederhana ini bisa menjadi bagian kisah sepenggal pengalaman kami untuk teman-teman, apapun yang kita inginkan akan ada resiko yang di ambil, ada tantangan yang luar biasa di depan sana yang harus kita hadapi. ada hati yang harus ikhlas pasrah dan berserah terhadap takdir yang diberikan.
saya ingat sekali ada satu orang bidan yang berkata seperti ini "setiap nyawa yang dititipkan sudah ada yang mengatur dari takdirnya, jadi kita ini hanya sebagai pelaksana saja, karena setiap takdir detik dan menitnya sebetulnya sudah ada yang menentukan skenario terbaiknya, jadi apapun itu jangan terlalu dipikirkan berlarut dan overthinking berlebihan"
meskipun sebagai perempuan overthinking tidak dapat dihindari ya :)
semangat teman-teman dari saya yang masih banyak belajar sebagai calon ibu
Komentar
Posting Komentar